Blok Rokan di Era Pertamina

Tak Yakin 'Merah Putih', Anggota DPR Minta Pertamina Tes Ulang 2.689 Pegawai Eks Chevron di Blok Rokan

Anggota Komisi VII DPR RI, Nasir meminta seleksi ulang seluruh pegawai eks Chevron yang direkrut otomatis menjadi pegawai Pertamina. Foto: Internet

RiauBisa.com, Pekanbaru - Anggota Komisi VII DPR RI, Muhamad Nasir meminta PT Pertamina untuk melakukan tes ulang pegawai eks PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang secara otomatis direkrut bekerja di Blok Rokan. Selain diragukan kapasitas kinerjanya, Nasir tak yakin semua pegawai eks Chevron berjumlah 2.689 tersebut 'merah putih'. Merah putih kerap diidentikkan dengan semangat nasionalisme kebangsaan cinta Indonesia.

Pernyataan Nasir tersebut disampaikannya saat Komisi VII DPR RI melakukan rapat dengar pendapat dengan Direktur Utama PT Pertamina Direktur Utama, Nicke Widyawati. Rapat direkam dan dibagikan dalam sebuah video Youtube yang viral dan disebut berlangsung pada 29 September lalu. 

Video berdurasi 10 menit 30 detik itu mengungkap kemarahan Nasir soal rekrutmen otomatis pegawai eks Chevron menjadi pegawai PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang kini menjadi pengelola Blok Rokan, setelah habisnya masa konsesi Chevron. 

Dalam video tersebut, Nasir mengungkap keraguan kualitas dan kehebatan pegawai eks Chevron. Awalnya, ia menyinggung tidak adanya peningkatan produksi minyak Blok Rokan dalam 10 tahun terakhir.

"Dalam 10 tahun terakhir, Chevron tak pernah menambah produksi minyaknya. Tapi, bapak bilang bagus nih karyawannya. Bapak harusnya tes dulu, baru diterima. Jangan main terima-terima saja langsung bekerja," kata politisi Partai Demokrat tersebut.

 

Nasir yang pernah mengusir Direktur Inalum dalam rapat DPR tahun lalu lantas menyinggung nasionalisme para pegawai eks Chevron tersebut. Ia menyebutnya dengan istilah 'merah putih'. Soal itu, Nasir mengungkit banyaknya data-data tentang Blok Rokan yang tidak diserahkan Chevron ke Pertamina, khususnya menyangkut data sumur minyak dan cost recovery.

"Bapak tahu berapa banyak data yang disimpan sama orang ini. Bapak tahu gak, data sumur gak diserahkan orang ini. Bapak jujur di sini ngomongnya. Data sumur mana sekarang yang sudah di-cost recovery, nggak ada kan? Bapak ngebor lagi," kata Nasir keras.

Nasir meragukan 'merah putih' para pegawai eks Chevron yang tidak menyerahkan seluruh data Blok Rokan ke Pertamina. Ia curiga, data-data itu disimpan dan bakal dijadikan mainan atau alat tawar (bargaining) eks pegawai Chevron dengan Pertamina.

"Merah putihnya saja gak jelas. Apakah data Blok Rokan diserahkan semua atau mereka jadikan mainan mereka supaya bargaining dengan Pertamina?" tegas Nasir.

Nasir juga heran dan mengaku pusing soal adanya oknum eks Chevron yang justru masih mendapat jabatan tinggi di Pertamina. Padahal menurutnya selama ini pejabat eks Chevron itu bicaranya tak konsisten.

"Saya gak yakin nih merah putihnya. Ini anak ini kok ada lagi di sini. Ini bajingan nih. Dikasih jabatan itu lagi. Kan pusing kita," tegas Nasir tanpa menyebut nama pejabat tersebut.

Sebagai anggota DPR mewakili Provinsi Riau, Nasir mengaku terusik dengan rekrutmen otomatis pegawai eks Chevron menjadi pegawai PT PHR. Soalnya, banyak anak Riau yang memiliki pendidikan tinggi juga berkeinginan bekerja di Blok Rokan.

 

"Kemampuan mereka (anak-anak Riau, red) tak kalah dari pegawai Chevron itu. Mereka juga ingin bekerja di situ. Makanya, di tes ulang lagi semua pegawai eks Chevron itu," tegas Nasir.

Atas dasar itu, Nasir meminta kepada Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk menyeleksi ulang seluruh pegawai eks Chevron tersebut.

"Ibu Dirut jangan membiarkan hal ini. Saya gak yakin nih merah putihnya. Harus dikejar nih. Lakukan seleksi ulang semuanya," tegas Nasir.

Ibarat membeli perusahaan orang, kata Nasir seharusnya diperiksa dulu mana yang layak dilanjutkan dan dipakai. Tidak semua dipakai jika memang tidak bagus.

RiauBisa.com belum bisa mengonfirmasi Nasir terkait videonya yang viral tersebut. Pesan konfirmasi yang dilayangkan belum dibalas. Demikian juga dengan panggilan telepon seluler, tidak diangkatnya.

VP Corporate Affairs PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Wilayah Kerja (WK) Rokan Sukamto Tamrin sudah dikonfirmasi soal substansi video yang viral tersebut. Namun ia belum memberikan penjelasan. Staf humas PCR, Okta juga belum memberikan keterangan.

"Saya tanyakan dulu ke internal ya," terang Okta. (*)