Blok Rokan di Era Pertamina
Video Viral! Peralihan Aset Kampus PCR ke Yayasan Dituding Korupsi, Nasir DPR Desak Dirut Pertamina Laporkan ke Polisi
Kampus Politeknik Caltex Riau (PCR) di Rumbai, Pekanbaru. Foto: Internet
RiauBisa.com, Pekanbaru - Sebuah potongan video kemarahan anggota DPR RI dapil Provinsi Riau, Muhamad Nasir viral di media sosial dan layanan percakapan. Video berdurasi 10 menit 30 detik tersebut membongkar dugaan korupsi yang terjadi dalam aset-aset negara yang dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia, sebelum meninggalkan Blok Rokan pada 9 Agustus lalu.
Salah satu aset yang diprotes keras oleh Nasir adalah keberadaan kampus Politeknik Caltex Riau (PCR) yang berada di Rumbai, Pekanbaru. Menurut politisi Partai Demokrat tersebut, peralihan aset PCR ke sebuah yayasan adalah tindakan korupsi.
"Kok bisa aset yang dibangun Chevron dengan cost recovery beralih menjadi yayasan. Saya minta laporkan ini pidana dan korupsinya, Buk Dirut. Ini aset negara, kok gampang kali beralih begitu saja," kata Nasir kepada Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dalam video tersebut.
Cost recovery adalah pengembalian biaya operasional kepada Chevron yang menjadi tanggung pemerintah dalam proses operasional dan terjadinya produksi migas. Cost recovery dikenal dalam skema kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC) migas. Pembiayaan Blok Rokan saat dikelola Chevron menggunakan skema PSC. Kini setelah Blok Rokan kembali ke 'Pangkuan Ibu Pertiwi' dikelola Pertamina, skema pembiayaan berubah menjadi gross split.
Berdasarkan penelusuran RiauBisa.com, video yang sudah diunggah di Youtube tersebut direkam saat rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI dengan jajaran PT Pertamina pada 29 September lalu. Itu artinya, itu merupakan video 4 hari lalu.
Menurut Nasir, uang negara melalui cost recovery kepada Chevron untuk membangun kampus PCR sudah mencapai ratusan miliar. Chevron menjadikan PCR sebagai sarang branding dan pencitraan kepedulian bagi masyarakat di Riau.
"Kampus itu jadi tonjolon (pencitraan, red) Chevron dulu. Sudah banyak uang negara habis ke situ. Kok sekarang bisa beralih ke yayasan. Apa-apaan ini," tegas Nasir yang juga pernah mengusir Direktur Utama Inalum, tahun lalu saat rapat di DPR RI.
Nasir memerintahkan Dirut Pertamina untuk mengejar kasus tersebut, agar PCR dikembalikan kepada Pertamina selaku pengelola baru Blok Rokan.
"Itu aset Pertamina sekarang. Jangan beralih jadi yayasan. Saya juga akan laporkan ini ke polisi. Harusnya ibu Dirut dan bapak-bapak ini yang melaporkan," tegas Nasir.
RiauBisa.com telah menghubungi Nasir untuk menanyakan soal video yang viral tersebut. Namun Nasir belum mengangkat telepon selulernya.
VP Corporate Affairs PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Wilayah Kerja (WK) Rokan Sukamto Tamrin sudah dikonfirmasi soal substansi video menyangkut status aset kampus PCR. Namun ia belum memberikan penjelasan. Staf humas PCR, Okta juga belum memberikan keterangan.
"Saya tanyakan dulu ke internal ya," terang Okta. (*)






