Kunjungan Wisatawan Asing ke Riau Melonjak 24,68 Persen

Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi

RiauBISA.com, Pekanbaru - Suasana di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dan beberapa pelabuhan utama di Riau tampak lebih sibuk dari biasanya sepanjang Mei 2026. Hilir mudik pelancong dengan paspor di tangan menjadi pemandangan yang kian lumrah. Geliat ini bukan sekadar pemandangan kasat mata, melainkan tercermin langsung dalam angka-angka optimistis yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau pada Rabu (1/7/2026).

Bumi Lancang Kuning tampaknya kembali memikat hati para pelancong dunia. Sepanjang bulan Mei 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Riau melonjak tajam hingga menembus angka 31.747 kunjungan.

Angka ini bukanlah prestasi kecil. Jika dibandingkan dengan bulan April 2026 yang mencatat 25.462 kunjungan, terjadi lonjakan sebesar 24,68 persen. Bahkan, jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (Mei 2025), pertumbuhan pariwisata Riau melesat hingga 35,33 persen.

Komitmen Pemerintah Daerah dan Apresiasi Data Sektoral

Menanggapi tren positif yang terekam dalam statistik ini, Pemerintah Provinsi Riau menyatakan kesiapannya untuk terus memacu akselerasi sektor pariwisata agar mampu bersaing di kancah internasional. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Tekad Perbatas, menyampaikan apresiasi mendalam atas sinkronisasi data yang disajikan oleh BPS.

"Kami sangat mengapresiasi data yang akurat dari rekan-rekan BPS Riau. Angka-angka ini menjadi kompas penting bagi Pemerintah Provinsi Riau dalam membaca pergerakan pasar sekalgus mengevaluasi efektivitas kebijakan di lapangan," ujar Tekad Perbatas saat diwawancarai secara terpisah terkait capaian triwulan kedua ini, pada Kamis (2/7/2026).

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pencapaian ini merupakan pemantik bagi jajaran Dinas Pariwisata untuk memperkuat komitmen dalam memajukan wisata daerah. Pemerintah Provinsi Riau berkomitmen penuh untuk menjaga momentum pertumbuhan ini.

"Letak geografis Riau yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura adalah modal besar yang harus terus kami optimalkan. Sehingga, sektor pariwisata di Riau bisa memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal," imbuh mantan Kepala Dinas Pariwisata Siak tersebut.

Pintu Masuk Pelancong Asing

Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, menguraikan bahwa gerbang masuk para wisman terbagi menjadi dua metode pencatatan. Sebanyak 7.505 wisman datang melalui empat pintu utama imigrasi, sementara mayoritas sisanya, yakni 24.242 kunjungan, terekam melalui Mobile Positioning Data (MPD) di Kabupaten Bengkalis.

Untuk pintu masuk utama imigrasi, Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru masih menjadi primadona dengan mengantongi 4.028 kunjungan. Disusul oleh Pelabuhan Dumai (1.647 kunjungan), Pelabuhan Bengkalis (1.143 kunjungan), dan Pelabuhan Tanjung Harapan di Kepulauan Meranti (687 kunjungan).

Menariknya, lonjakan signifikan sebesar 59,44 persen pada pintu masuk utama imigrasi ini tidak terjadi begitu saja. Ada andil besar dari sektor industri strategis di Riau.

"Salah satu faktor yang mendorong kenaikan tersebut adalah kegiatan Turn Around (TO) Pertamina di Kota Dumai yang berlangsung sejak 1 Mei 2026," jelas Asep Riyadi. 

Jika menilik peta asal negara, Malaysia masih menjadi "saudara serumpun" yang paling setia mendominasi pariwisata Riau dengan total 15.940 kunjungan atau separuh lebih dari total wisman (50,21 persen). Di posisi berikutnya, menyusul wisatawan dari Tiongkok (9,46 persen), Filipina (6,05 persen), Singapura (4,00 persen), dan India (3,10 persen). 

Namun, kejutan justru datang dari belahan barat. Wisatawan asal Amerika Serikat mencatat lonjakan persentase kenaikan tertinggi dibanding bulan sebelumnya, yaitu melesat 72 persen, diikuti oleh pelancong asal Inggris yang meningkat 59,96 persen.

Magnet Wisata: Dari Sejarah Kesultanan Siak hingga Candi Muara Takus Kampar

Daya tarik Riau bagi para pelancong seolah tak pernah habis. Selain urusan bisnis dan industri, Riau menyimpan kekayaan destinasi populer yang terus memikat wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin mengeksplorasi budaya dan keindahan alam Sumatra.

Bagi pencinta sejarah dan budaya, Kemegahan Istana Siak Sri Indrapura di Kabupaten Siak selalu sukses mencuri perhatian. Istana bersejarah peninggalan Kesultanan Siak ini menyimpan berbagai koleksi kuno yang berharga. Sementara di Kabupaten Kampar, terdapat Candi Muara Takus, situs purbakala bercorak Buddha tertua di Sumatra yang menjadi bukti jejak peradaban masa lalu.

Tak jauh dari situ, Kampar juga menawarkan Puncak Kompe hingga Air Terjun Gulamo, sebuah destinasi alam eksotis yang sering kali dijuluki sebagai "Raja Ampat versi Riau" berkat gugusan pulau hijau di tengah danau yang memanjakan mata. Jika ingin menikmati wisata religi di pusat kota, Masjid Raya Agung An-Nur di Pekanbaru berdiri dengan megahnya, kerap dijuluki "Taj Mahal-nya Riau" berkat arsitekturnya yang menawan serta pelataran luasnya yang menyejukkan.

Hotel Berbintang Panen Raya, Bintang 4 Jadi Pilihan Utama

Melonjaknya jumlah kunjungan wisman serta ramainya pergerakan pelancong ini tentu membawa angin segar bagi industri perhotelan di Riau. Hukum ekonomi penawaran dan permintaan pun berlaku, ketika pelancong membanjiri daerah, kamar-kamar hotel mulai padat terisi.

BPS Riau mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Riau pada Mei 2026 menyentuh angka 47,18 persen. Artinya, dari seluruh fasilitas kamar yang tersedia, rata-rata hampir separuhnya habis terjual setiap malam. Angka ini merangkak naik 1,69 poin dari bulan April 2026, dan tumbuh 2,59 poin dibanding Mei tahun lalu.

Dari seluruh kelas akomodasi, rupanya hotel bintang 4 menjadi primadona utama bagi para pelancong dengan TPK tertinggi mencapai 57,35 persen. Sementara hotel bintang 3 mengekor di angka 51,37 persen, bintang 2 sebesar 41,56 persen, dan bintang 1 sebesar 27,50 persen.

Menikmati Riau Lebih Lama

Tidak hanya sekadar singgah, para pelancong kini juga memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di Riau. Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) hotel berbintang pada Mei 2026 naik tipis menjadi 1,29 malam.

Jika dibedah lebih dalam, ada perbedaan karakteristik yang kontras antara tamu lokal dan ekspatriat. Tamu domestik biasanya menghabiskan waktu rata-rata 1,28 malam untuk urusan bisnis singkat atau liburan akhir pekan. Sementara itu, wisatawan mancanegara cenderung betah tinggal lebih lama di Bumi Lancang Kuning.

"Rata-rata tamu mancanegara menginap selama 2,05 malam atau sekitar dua hingga tiga malam," ungkap Asep.

Lagi-lagi, hotel bintang 4 menjadi tempat favorit bagi para pelancong asing maupun domestik untuk menghabiskan malam-malam mereka, membuktikan bahwa faktor kenyamanan dan pelayanan premium tetap menjadi prioritas utama.

Dengan perpaduan daya tarik industri strategis, pesona event pariwisata dan destinasi wisata yang kaya, serta fasilitas akomodasi yang semakin prima, pariwisata Riau di pertengahan tahun 2026 ini sukses menorehkan catatan manis. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ini agar roda ekonomi kreatif dan pariwisata daerah terus berputar kencang.(*)