AMPR Tuding Gubri Gagal Pimpin Riau: Ingat Bansos, Ingat Syamsuar

Riaubisa.com, Pekanbaru - Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Dan Pemuda Riau  (AMPR) Zulkardi, menilai, Gubernur Riau Syamsuar dituding gagal dalam memimpin Provinsi Riau dengan sejumlah data dan fakta yang ia sampaikan kepada awak media.

Menurut dia, dibawah kepemimpinan Syamsuar - Edy Natar, masih banyak program kerja serta visi misi yang belum terealisasikan. Padahal kata dia, program ini masuk dalam janji prioritas kampanye Syamsuar-Edy Natar pada saat Pemilu 2019. 

"Saat ini (program) belum dirasakan oleh masyarakat Riau, terutama dalam janji politik atas program terwujudnya pembangunan infrastruktur daerah Riau yang merata, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan," ujar Zulkardi, dalam keterangan yang diterima riaubisa.com, Senin (17/04/2023).

Idealnya sebut dia, seorang pemimpin itu harusnya ada meninggalkan sesuatu program maupun pembangunan yang spektakuler sehingga dikemudian hari bisa diingat oleh banyak orang.

"Semoga di pemilu 2024 kelak masih ada partai politik yang ingin mengusung beliau," jelasnya.

Gagalnya Syamsuar dia lihat dari flashback kasus dana hibah dan bansos Siak Tahun 2014 - 2019. Dia menduga, Syamsuar aktor dibalik kerugian negara tersebut.

"Kami AMPR memiliki data tersebut (bansos) dan menduga Syamsuar lah yang harus bertanggung jawab penuh karena beliau sebagai Bupati Kabupaten Siak pada saat itu", cetusnya.

Dari permasalahan dana hibah dan bansos Siak tahun 2014-2019 inilah di kemudian hari akan menjadi pertimbangan partai politik dalam menolak Syamsuar untuk memberikan perahu dalam bersaing di Pemilu 2024.

"Kalau teman-teman media tidak percaya coba scroll di google pencarian terkait Gubernur Provinsi Riau, Syamsuar maka yang akan ditemukan ialah berbagai permasalahan yang melibatkan beliau, belum lagi quote - quote Syamsuar tentang Riau Berdaya Saing dan Riau Sejahtera sering kali dirubah oleh masyarakat menjadi Riau Perkaya Asing dan Riau Sengsara," cetusnya.

 

Selain itu, dia melihat kepemimpinan Syamsuar - Edy Natar juga dikabarkan merenggang akibat adanya pemotongan bantuan hibah untuk masjid yang masuk dalam daftar list Safari Ramadhan Syamsuar - Edy Natar.

Awalnya bantuan masjid ini berjumlah Rp 50 juta akan tetapi belakangan bantuan hibah ini dipotong sepihak menjadi Rp 25 juta.

"Kejadian memalukan ini membuat Syamsuar kehilangan Kepercayaan publik dari kalangan pengurus masjid dan juga  pengurus rumah ibadah agama lainnya sehingga membuat kesenjangan sosial antar kerukunan beragama," tuturnya.

Harusnya, bantuan hibah untuk masjid seharusnya tidak di umbar ke publik oleh Syamsuar - Edy Natar. Sebab, tidak semua rumah ibadah yang ada di Riau masuk dalam penerima bantuan dana CSR.

"Coba kita bayangkan seperti apa perasaan pengurus rumah ibadah lainnya yang mengetahui bahwa rumah ibadah mereka tidak masuk dalam prioritas utama seorang pemimpin dalam memberikan bantuan kemakmuran?", terangnya.

Kembali dalam janji kampanye Syamsuar di Pemilu 2019 tentang pembangunan infrastruktur daerah secara merata, hal ini tentu sangat berbanding terbalik atas kinerja Syamsuar - Edy Natar, memimpin Riau.

Data Kementerian PUPR menyatakan bahwa Riau menjadi Provinsi dengan status jalan rusak berat paling banyak di pulau sumatera dengan rincian sebagai total panjang jalan nasional di Riau adalah 1.336 KM, Jalan Provinsi 2.799 KM, dan Jalan Kabupaten 17.297 KM

Jalan Nasional

- Rusak Berat : 41 KM (3,11%)

- Rusak Ringan : 135 KM (10,14%)


Jalan Provinsi

- Rusak Berat : 632 KM (22,6%)

- Rusak Ringan : 440 KM (15,74%)

Jalan Kabupaten

- Rusak Berat : 4.239 KM (24,51%)

- Rusak Ringan : 3.268 KM (18,9%)

Pertanyaan publik tentang kegunaan APBD Riau selama kepemimpinan Syamsuar - Edy Natar kembali muncul. Apa urgensinya membeli kendaraan dinas mewah sedangkan fasilitas jalan di Riau kebanyakan tergolong dalam kategori jalan rusak berat?

Janji politik Syamsuar pada Pemilu 2019 ialah pembangunan infrastruktur daerah secara merata akan tetapi rilis yang dikeluarkan Kementrian PUPR baru baru ini menyatakan bahwa Provinsi Riau adalah Provinsi yang memiliki Jalan berstatus Rusak Berat terbanyak di Pulau Sumatera.

"Kemana APBD selama ini? Seharusnya perbaiki fasilitas jalannya terlebih dahulu, ini malsh gunakan anggaran untuk membeli mobil mewah baru," jelasnya.

 

Belum lagi terdapat beberapa pembangunan infrastruktur dimasa kepemimpinan Syamsuar - Edy Natar yang tidak selesai padahal jika ditotal anggaran yang digunakan mencapai ratusan milyar rupiah.

Setidaknya dimasa kepemimpinan Syamsuar - Edy Natar terdapat 4 proyek pembangunan strategis yang saat ini belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat padahal anggaran mencapai ratusan miliar.

1. Pembuatan Payung Elektrik seperti di Kota Madinah yang belum diresmikan sudah hancur padahal total anggaran mencapai Rp 42 Miliar.

2. Pembangunan Gedung Makorem yang sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan padahal total anggaran mencapai Rp 84 Miliar.

3. Pembangunan Gedung Quran Center yang menggunakan anggaran secara bertahap sejak tahun 2021 akan tetapi hingga saat ini gedung tersebut belum bisa difungsionalkan padahal total anggaran mencapai Rp 36 Miliar.

4. Pembangunan Masjid Raya Provinsi Riau yang terkesan membangun proyek asal asalan padahal total anggaran mencapai Rp 104 Miliar.

Yang membuat masyarakat semakin hilang simpati kepada kepemimpinan Syamsuar - Edy Natar ialah atensi beliau yang terkesan ingin memenjarakan mahasiswa yang telah mengkritisi kebijakan beliau dalam memimpin Provinsi Riau maupun Kabupaten Siak.

"Yang membuat saya hilang rasa hormat kepada Syamsuar ialah beliau sosok pemimpin yang terkesan sangat anti kritik, ingat pak!!! Jika tak ingin dikritisi jangan pernah menjadi pejabat publik, sebagai informasi saat ini syamsuar tengah memperkarakan seorang Mahasiswa kepada APH Provinsi Riau karena Mahasiswa ini telah mengkritik beliau, baik itu kritikan dalam memimpin Provinsi Riau Maupun Kabupaten Siak Saat itu," cetusnya.

"Kalau para pejabat publik apalagi orang nomor satu di Provinsi Riau ini telah berniat memenjarakan seorang rakyatnya, maka hanya ada satu kata bagi kita sebagai pemuda dalam menanggapi pemimpin yang seperti ini yaitu 'Lawan' sampai kezaliman seperti ini tidak ada lagi menghinggapi tubuh pemimpin Riau untuk sekarang hingga masa depan nanti," ulasnya. (*)