Merawat Warisan Melayu, LAMR Bengkalis Gelar Sepekan Kenduri Adat Penuh Makna
RiauBISA.com, Bengkalis -- Semangat kebersamaan dan kekayaan budaya akan mewarnai peringatan Hari Jadi ke-514 Kabupaten Bengkalis. Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis menyiapkan rangkaian Sepekan Kenduri Adat yang berlangsung pada 22–30 Juli 2026, menghadirkan perpaduan tradisi Melayu, permainan rakyat, seni lintas etnis, hingga prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kabupaten Bengkalis, Datuk Seri Syaukani Alkarim, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai adat sekaligus memperkuat identitas budaya Bengkalis di tengah masyarakat yang majemuk.
Rangkaian kegiatan diawali pada 22–24 Juli dengan program Bersih-Bersih Kampung, berupa gotong royong membersihkan lingkungan, merapikan kawasan, memangkas pepohonan, membersihkan parit, hingga mempercantik Gedung LAMR. Kegiatan ini melibatkan berbagai paguyuban masyarakat, Dinas Lingkungan Hidup, dan Bea Cukai sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan sekaligus semangat kebersamaan.
Memasuki 24 Juli, masyarakat akan disuguhi Lomba Mendodoi Anak bertema "Senandung Negeri Bertuah", yang menjadi ruang pelestarian tradisi lisan Melayu dalam meninabobokan anak melalui syair dan irama penuh makna.
Suasana semakin semarak pada 25–26 Juli melalui Menongkah Kelam, ajang permainan tradisional bagi pelajar yang menghadirkan berbagai permainan rakyat seperti congkak, sembo lang, kaki anggau, main kelas, karet yeye, dan buah para. Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
Keberagaman budaya juga mendapat ruang istimewa melalui Gelanggang Corak Budaya. Berbagai paguyuban etnis akan menampilkan seni khas masing-masing, mulai dari barongsai, reog, dan jaranan, hingga pertunjukan budaya Batak, Bugis, Minang, Aceh, Banjar, dan Sunda. Kehadiran ragam budaya tersebut menjadi simbol kuat bahwa Bengkalis tumbuh sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dalam bingkai budaya Melayu.
Pada malam harinya, masyarakat dapat menikmati Car Free Night atau Melengah Malam, disusul pertunjukan Selaksa Kata Seniman Negeri yang menyuguhkan pembacaan puisi, pementasan teater, hingga teater bangsawan Melayu.
Kemeriahan berlanjut dengan Puan Sanjungan Negeri, menampilkan shalawat, tari zapin, tari tabal, hingga berbagai kesenian tradisional Melayu. Sementara Gaung Lajang Melayu akan menjadi panggung bagi musisi muda Bengkalis sekaligus momen pemberian Penghargaan Prestasi Gemilang kepada tokoh perempuan yang dinilai berjasa bagi daerah.
Memasuki pekan terakhir, rangkaian acara beralih pada penguatan nilai sejarah dan adat. Syarahan Adat pada 27 Juli mengangkat tema "Junjungan Adat, Junjungan Marwah Bengkalis: Sejarah, Warisan, dan Jati Diri Melayu", sebagai ruang refleksi atas perjalanan budaya Melayu di Negeri Junjungan.
Kegiatan dilanjutkan dengan Ziarah Kubur pada 28 Juli, mengunjungi makam para tokoh dan leluhur Bengkalis sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa mereka dalam membangun daerah.
Prosesi adat mencapai puncaknya pada 29 Juli melalui ritual Buka Lawang Kenduri Adat, yang ditandai dengan penyembelihan kerbau sebagai bagian dari tradisi adat Melayu.
Selanjutnya, pada 30 Juli 2026, seluruh rangkaian ditutup dengan Kenduri Adat bertema "Menyulam Kasih Menekat Sayang, Menyemai Keberagaman" di Balai Tabal Gedung LAMR Kabupaten Bengkalis. Prosesi ini menjadi simbol rasa syukur, persatuan, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Melalui Sepekan Kenduri Adat, LAMR Kabupaten Bengkalis berharap peringatan Hari Jadi ke-514 tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat jati diri Melayu, merawat tradisi, serta mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Bengkalis. (*)






