Pencegahan Paham Radikal Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga

RiauBISA.com, Pekanbaru – Keluarga memiliki peran penting sebagai benteng pertama dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET). Oleh karena itu, penguatan ketahanan keluarga menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, toleran, serta memiliki semangat kebangsaan yang kuat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Provinsi Riau, Fariza, saat memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Program RATAKAN (Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan) yang dijalankan Satgaswil Riau Densus 88 Anti Teror Polri di sejumlah sekolah di Provinsi Riau.

Fariza menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter, moral, dan ketahanan ideologi anak sejak usia dini. Karena itu, orang tua harus menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.

“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Sebelum mengenal lingkungan luar, anak lebih dahulu belajar dari orang tua dan keluarga. Karena itu, pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme harus dimulai dari rumah melalui penguatan nilai kebangsaan, toleransi, serta kasih sayang dalam keluarga,” ujar Fariza.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan media sosial menghadirkan tantangan baru dalam pola pengasuhan. Kemudahan akses terhadap berbagai informasi membuat anak dan remaja rentan terpapar konten yang mengandung ujaran kebencian, intoleransi, hingga propaganda yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan.

Karena itu, peran orang tua tidak cukup hanya mengawasi penggunaan teknologi digital, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka serta memberikan pemahaman yang benar kepada anak.

“Orang tua perlu hadir di tengah perkembangan teknologi yang dihadapi anak-anak. Bukan hanya mengawasi, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman yang benar, dan menjadi tempat bertanya yang nyaman ketika anak menemukan informasi yang membingungkan di ruang digital,” katanya.

Fariza mengapresiasi Program RATAKAN yang telah menjangkau puluhan ribu pelajar di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak. Menurutnya, program tersebut merupakan investasi sosial yang sangat penting dalam memperkuat ketahanan generasi muda terhadap ancaman ideologi kekerasan.

“Kami menyambut baik dan mendukung penuh Program RATAKAN yang dilaksanakan Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri. Program ini tidak hanya memberikan edukasi kepada peserta didik, tetapi juga meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang pentingnya menjaga generasi muda dari pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila,” ungkapnya.

Sebagai perangkat daerah yang memiliki tugas dalam perlindungan anak dan penguatan keluarga, Dinas P3AP2KB Provinsi Riau terus mendorong berbagai program peningkatan kualitas pengasuhan, ketahanan keluarga, serta perlindungan anak dari berbagai ancaman sosial.

Fariza menilai keluarga yang harmonis, komunikatif, dan penuh perhatian akan lebih mampu membangun ketahanan psikologis anak sehingga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan maupun propaganda yang mengarah pada perilaku intoleran dan ekstrem.

“Ketika anak merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga, mereka akan memiliki kepercayaan diri serta kemampuan berpikir yang lebih baik dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia juga mengajak seluruh orang tua untuk membiasakan budaya diskusi di lingkungan keluarga mengenai nilai-nilai kebangsaan, toleransi, etika bermedia sosial, serta bahaya penyebaran informasi yang mengandung kebencian dan kekerasan.

Menurut Fariza, keberhasilan pencegahan IRET membutuhkan sinergi seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga aparat keamanan.

“Membangun generasi yang tangguh tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Ketika seluruh pihak bergerak bersama, kita akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, toleran, dan cinta tanah air,” tegasnya.

Program RATAKAN hingga kini telah menjangkau 94 sekolah dengan total 84.369 siswa, 1.972 guru, 135 guru bimbingan konseling, dan 66 kepala sekolah. Capaian tersebut menjadi bukti nyata kolaborasi antara Satgaswil Riau Densus 88 AT Polri, Pemerintah Provinsi Riau, dunia pendidikan, dan keluarga dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Melalui penguatan keluarga sebagai garda terdepan pencegahan, Pemerintah Provinsi Riau optimistis dapat mencetak generasi muda yang sehat, berkarakter, toleran, serta mampu menjadi agen perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.(*)