Konflik Lahan Pecah di Rengat Inhu, Ribuan Batang Sawit Masyarakat Ditumbangkan
Konflik lahan perkebunan sawit antara masyarakat dan pihak perusahaan, seketika mendadak pecah dan nyaris terjadi bentrokan di lapangan, Alat berat seketika masuk dan menumbangkan ribuan batang pohon sawit milik petani di Desa Sungai Raya, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Sabtu (9/5/2026) | Foto : Sabar Paiman S
RiauBISA.com, Rengat - Konflik lahan perkebunan sawit antara masyarakat dan pihak perusahaan, seketika mendadak pecah dan nyaris terjadi bentrokan di lapangan.
Alat berat seketika masuk dan menumbangkan ribuan batang pohon sawit milik petani di Desa Sungai Raya, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Sabtu (9/5/2026).

Dari informasinya, aksi penumbangan pohon sawit melalui alat berat perusahaan itu, diduga berkaitan dengan seorang perwakilan pihak perusahaan, Supri Handayani alias Ando.
Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Indragiri itu, dituding bertindak atas kepentingan PT Sinar Belilas Perkasa (PT SBP) dalam aktivitas pembukaan lahan di wilayah yang diklaim sebagai kebun masyarakat.

Dari total tujuh unit alat berat yang masuk ke lokasi, Ando mengakui tiga unit berada di bawah kendalinya. Namun, Ando menyatakan alat tersebut sebelumnya diperuntukkan bekerja di lahan plasma masyarakat Desa Paya Rumbai, Kecamatan Seberida.
Selain alat berat, puluhan orang yang diduga sebagai tenaga keamanan bayaran perusahaan, turut melakukan pengawalan. Mereka disebut membawa senjata tajam saat dilakukan aktivitas penumbangan pohon kelapa sawit.

Sejumlah nama bahkan disebut warga berada di lokasi pengamanan, di antaranya Suprianto alias Wanto yang diketahui berasal dari Sekip Payung serta Edi Anto, warga Sungai Raya.
Kehadiran alat berat dan kelompok pengawal tersebut memicu kemarahan petani. Informasi yang berkembang di masyarakat menyebutkan ribuan petani berencana melakukan aksi besar pada Minggu (10/5/2025) guna mempertahankan kebun dan lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Samsir alias Kucil, petani asal Sungai Raya, mengatakan, pihaknya mengecam keras tindakan pengrusakan kebun masyarakat yang dinilai dilakukan secara sepihak.
"Kami akan melaporkan pengrusakan ini ke Polres Inhu. Kami tetap mempertahankan lahan kami dan menuntut ganti rugi atas tanaman yang dirusak," ucap Samsir.
Samsir mengklaim, nama Supri yang disebut-sebut diduga terlibat memasukkan alat berat ke lokasi kebun petani ketika dikonfirmasi wartawan membantah tudingan tersebut. Ando menegaskan tidak pernah mengerahkan tujuh unit alat berat ke Sungai Raya.
"Saya hanya masukan tiga unit alat berat dan itu bekerja di lahan plasma PT SBP di wilayah Desa Paya Rumbai," ujar Ando saat dikonfirmasi.
Pria yang juga merupakan warga Sekip Hilir itu mengaku tidak mengetahui adanya konflik di Sungai Raya yang dikaitkan dengan aktivitas alat berat miliknya.
"Alat berat saya baru dimasukkan ke lahan plasma, dan tidak ada kabar keributan," katanya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, kondisi pada lahan masyarakat petani di Sungai Raya masih diliputi ketegangan.
Masyarakat berharap aparat kepolisian dan pemerintah daerah segera turun tangan untuk meredam situasi sebelum konflik lahan tersebut berubah menjadi tragedi berdarah di Kabupaten Inhu. (*)






