Sidak ke Gudang Bulog Riau, Stok Migor merek Minyakita Menipis Cuma 35 Persen

Ketua Komisi III DPRD Riau, Edi Basri, diwawancara awak media usai melakukan sidak di gudang Bulog Riau | Foto : Arifin Waruwu

RiauBISA.com, Pekanbaru - Dari hasil Inspeksi Mendadak (Sidak) DPR RI Muhammad Rohid dan Anggota DPRD Riau, Edi Basri, di gudang Kanwil Bulog wilayah Riau, Senin (27/04/2026), diketahui ternyata Minyak Goreng (Migor) merek Minyakita, mengalami stok yang sangat menipis.

"Stok pangan yang kurang adalah minyakita. Stok (migor) ini diambil melalui pabrik di Kota Dumai yang hanya 35 persen dari total semua produksi yang ada di Riau," ujar Ketua Komisi III DPRD Riau, Edi Basri, usai melakukan sidak.

Terhadap hal itu, pihaknya mengaku khawatir. Hal ini kata dia, menjadi perhatian serius dalam memenuhi ketersediaan stok pangan di Riau.

"Jadi ini (ketersedian stok) yang perlu di intervensi dalam kaitan untuk menstabilkan harga. Artinya ini disinyalir ada permainan harga nantinya dari segelintir oknum yang tidak bertanggungjawab," ucap Edi.

Sementara itu, berdasarkan keterangan pihak Bulog kata dia, kebutuhan pangan untuk Riau terutama beras dinilai cukup. Dari persentase, jatah untuk Bulog Riau itu ditambah menjadi 40 sampai 45 persen.

"Beras di Bulog Riau sekitar 12 ribu ton. Beras tersebut kini disimpan di beberapa tempat. Ada yang di gudang Bulog Kampar, Siak dan di Palas Pekanbaru yang punya kapasitas 11 ribu ton dan gudang yang disewa di luar itu 6.500 ton," kata dia.

Sebagai Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Riau, Edi memberikan perhatian terhadap kualitas beras yang masih bersifat beras tradisional.

"Ini (pengolahan beras) karena peralatannya masih belum modern. Sehingga kualitas berasnya masih kualitas normal lah, belum ke premium," tukasnya.

Menyikapi hal itu, pihaknya berencana akan menggagas ide berkolaborasi dengan sentra-sentra penggilingan padi supaya diberikan dukungan peningkatan peralatan untuk pengolahan beras.

Sehingga kata Politisi Gerindra itu, hasilnya betul-betul menjadi kelas premium, terutama dari segi alat pengeringannya.

"Kalau pengeringannya di atas 15 persen, itu sudah bagus sekali," ucapnya.

Edi juga meminta

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, harus turut  serta memantau kondisi yang terjadi sebagai bentuk tanggungjawab pengendalian pangan di daerah.

"Menurut saya Pangan Bertuah itu harus selalu melakukan intervensi pasar murah. Kemudian mengambil bagian lah dalam kaitan untuk pendistribusian kebutuhan dasar masyarakat," pungkasnya. (*)

Tags :DPRD Riau