Greysia/ Apriyani 'Obati' Sejarah Kelam Indonesia di Olimpiade Tokyo 1964
Suasana pembukaan Ganefo di Gelora Bung Karno, 1963. Foto: Kompaspedia
RiauBisa.com - Rakyat Indonesia bersorak girang gembira menyambut kemenangan pasangan badminton putri Greysia/ Apriyani yang berhasil merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Para politisi, elit partai dan pejabat hingga rakyat jelata mengungkapkan kebahagiaan yang begitu semarak. Aneka hadiah digelontorkan untuk pasangan atlet yang mempersembahkan satu-satunya medali emas bagi tim Indonesia di laga pesta olahraga terbesar sejagat itu.
Kemenangan Greysia/ Apriyani di Olimpiade Tokyo 2020 ibarat obat yang menyembuhkan 'luka lama' Indonesia saat penyelenggaraan Olimpiade di Tokyo, Jepang pada 57 tahun lalu. Ya, Tokyo di tahun 1964 menjadi tuan rumah penyelenggara Olimpiade ke 16. Bagi Indonesia, olimpiade Tokyo 1964 sungguh membekas dan akan selalu ditorehkan dalam sejarah kelam olahraga di Tanah Air.
Betapa tidak, Indonesia absen di Olimpiade Tokyo 1964 akibat sanksi yang dijatuhkan oleh International of Olympic Committe (IOC). Otoritas penyelenggara even olahraga dunia empat tahunan tersebut menjatuhkan hukuman keras, yakni larangan ikut serta bagi Indonesia.
Ini disebabkan oleh langkah berani dan keras Presiden Sukarno yang menyelenggarakan Games of Emerging Force (Ganefo) pada tahun 1963. Tentu saja, saat itu kondisi geopolitik dunia sedang berkecamuk. Bung Karno yang dianggap salah satu tokoh penting negara Asia-Afrika ingin mengadakan 'perlawanan' terhadap dominasi negara-negara maju yang didominasi Amerika Serikat dan Barat. IOC dinilai sebagai perpanjangan tangan kaum imperialisme global yang ingin mendominasi dunia dengan segala kekuatan yang dimilikinya.
Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno menjadi aktor utama komunitas New Emerging Forces (Nefo) yakni kekuatan politik baru menghadapi kekuatan politik lama yang sudah lebih dulu mapan dalam kubu Old Established Forces (Oldefo).
Pelaksanaan Ganefo diikuti sebanyak 2.700 atlet yang berasal dari 51 negara. Ganefo mempertandingkan sebanyak 20 cabang olahraga. Indonesia berhasil keluar sebagai juara umum ketiga di bawah Tiongkok dan Uni Soviet. Menyusul kemudian sebagai juara keempat dan kelima yakni Republik Persatuan Arab dan Korea Selatan.
Sebenarnya, pelaksanaan Ganefo merupakan bentuk perlawanan terhadap IOC bermula ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962. Dalam Asian Games IV yang berlangsung 24 Agustus-4 September 1962 tersebut, Indonesia melarang Israel dan Taiwan ikut serta.
Bung Karno konsisten dengan sikapnya yang pro pada Palestina akibat penjajahan yang dilakukan oleh Israel. Sementara, terkait Taiwan saat itu belum diakui sebagai negara oleh Tiongkok, namun sejumlah negara Barat termasuk Amerika Serikat sudah mengakuinya sebagai negara. Alasan lain, Indonesia juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan kedua negara tersebut.
Pelaksanaan Asian Games IV tanpa keikutsertaan Israel dan Taiwan menimbulkan kecaman keras dari Asian Games Federation (AGF). AGF menilai Indonesia terlalu mencampuri urusan politik negara lain ke dalam olahraga.
AGF lantas melaporkan hal tersebut ke IOC yang membawanya ke sidang khusus. Hasilnya, keanggotaan Indonesia di IOC ditangguhkan (skor) sampai dengan batas waktu yang tak ditentukan dan kesediaan pemerintah Indonesia meminta maaf.
Keputusan sidang IOC itu justru membuat Bung Karno meradang. Ia memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) untuk keluar dari keanggotaan IOC pada 14 Februari 1963. Atas dasar itu pula Presiden Sukarno dan Menteri Olahraga Maladi menggagas Ganefo sebagai tandingan Olimpiade Tokyo 1964. Keputusan keras Bung Karno inilah yang membuat IOC tidak mengikutsertakan Indonesia dalam olimpiade Tokyo setahun kemudian. (*)






