Populasi Terus Menurun, Jumlah Gajah Sumatra di Riau Tersisa hanya 249 Ekor

Gajah yang baru dilahirkan (dok Balai BKSDA Riau)

RiauBISA.com, Pelalawan - Petugas Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali menemukan ranjau paku yang diduga sengaja dipasang oleh orang tak dikenal di dalam kawasan konservasi, Kabupaten Pelalawan, Riau. Ranjau tersebut ditemukan di jalur pelintasan satwa liar, khususnya gajah Sumatera.

Diduga, pemasangan ranjau paku merupakan aksi balasan dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab setelah petugas melakukan penertiban terhadap aktivitas ilegal di dalam kawasan taman nasional. Modus serupa diketahui kerap muncul setiap kali penegakan hukum dilakukan.

Meski dalam temuan kali ini tidak ada satwa yang menjadi korban, sejumlah kendaraan petugas mengalami ban bocor akibat menginjak ranjau tersebut. Kondisi ini membahayakan keselamatan petugas sekaligus mengancam satwa liar yang dilindungi.

Untuk mencegah kejadian serupa, petugas meningkatkan intensitas patroli dan menyisir sejumlah titik rawan di kawasan Tesso Nilo, khususnya jalur-jalur yang sering dilalui gajah.

Sementara itu, populasi gajah Sumatera di Provinsi Riau terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, jumlah gajah Sumatera yang hidup liar saat ini diperkirakan hanya sekitar 216 ekor, yang terbagi dalam delapan kantong populasi.

Jika digabung dengan gajah jinak yang dipelihara di Pusat Pelatihan Gajah dan lokasi konservasi lainnya sebanyak 23 ekor, maka total populasi gajah Sumatera di Riau hanya sekitar 249 ekor.

Menyusutnya populasi gajah Sumatera tidak terlepas dari maraknya perburuan, pemasangan jerat, hingga penggunaan racun di kawasan hutan. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi BBKSDA Riau dalam upaya perlindungan dan pelestarian satwa langka tersebut.

Selain meningkatkan pengamanan di kawasan konservasi, BBKSDA Riau juga terus melakukan edukasi dan kampanye penyelamatan gajah Sumatera kepada masyarakat guna menekan ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa dilindungi ini. (*)