Keunikan Tatung di Festival Bakar Tongkang Bagansiapiapi Riau

Riaubisa.com, Bagansiapiapi - Puncak Festival Bakar Tongkang sukses digelar di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, Sabtu (22/6). Event pariwisata nasional ini berhasil menyedot puluhan ribu wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara. 

Beragam pertunjukan bisa di saksikan pada event ini, mulai dari Festival Ekonomi Kreatif dan Bazar UMKM yang digelar Dinas Pariwisata Provinsi Riau. Selain itu, ada arak-arakan dan atraksi Tatung di Jalan Klenteng hingga Jalan Perniagaan Kota Bagansiapiapi. 

Tatung adalah satu di antara atraksi yang menarik perhatian pada acara Ritual Bakar Tongkang. Istilah Tatung ini dipergunakan sebagai simbol pada orang yang kebal yang tubuhnya dirasuki Dewa-Dewi atau roh leluhur sesuai kepercayaan. 

Warga Tionghoa di Bagansiapiapi mempercayai saat Tatung mulai beraksi, tubuh mereka akan ‘dipinjam’ oleh dewa untuk dijadikan sebagai alat komunikasi atau perantara dengan masyarakat di sekitarnya. 

"Tatung ini salah satu yang menarik dalam perayaan Bakar Tongkang. Mereka yang sudah dimasuki tatung atau roh nenek moyang akan kebal, itulah dia ditusuk juga tak apa-apa. Tatung hadir ketika proses arak-arakan. Biasanya, Tatung didampingi peserta arak-arakan yang datang dari sejumlah klenteng," kata warga Tionghoa Bagansiapiapi, Richard.

Mulai dari Jalan Klenteng In Hock Kiong hingga Jalan Perniagaan, terlihat beberapa Tatung dan peserta arak-arakan mengenakan baju seragam khusus, coraknya didominasi berwarna merah, kuning dan hitam. Ketika Tatung beraksi, tatapan matanya kosong. Mulutnya komat-kamit membacakan mantra. Jiwanya seperti dirasuki roh. 

Peserta arak-arakan yang mendampingi Tatung berbaris membawa aksesoris pawai, yakni puluhan bendera, barongsai, dan alat musik pukul. Mereka berteriak-teriak melontarkan kalimat berbahasa Tionghoa. Sembari berjalan menuju lokasi pembakaran replika tongkang, atraksi ini kerap dilakukan oleh setiap peserta.

Wisatawan dari Singapura bernama Tony berujar, Festival Bakar Tongkang merupakan acara yang selalu dinantikan oleh warga keturunan Tionghoa Bagansiapiapi yang telah merantau.

Ia mengaku selalu hadir pulang kampung ketika event ini diselenggarakan. Event yang sarat budaya Tionghoa peranakan ini adalah acara yang dilakukan untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke Bagansiapiapi pada tahun 1820 silam. 

"Acara ini selalu ramai dikunjungi para perantau dan wisatawan dari luar provinsi Riau, bahkan dari luar negeri. Warga Tionghoa Bagansiapiapi yang telah merantau ke Jakarta, Medan, Malaysia Singapura, Vietnam, Tiongkok, Australia, hingga Amerika datang saat Ritual Bakar Tongkang," ucap Tony.

Bahkan, kata dia, para perantau di luar negeri sering mengajak warga negara di tempat ia merantau untuk ikut datang menyaksikan Ritual Bakar Tongkang. "Banyak orang Tionghoa yang bukan dari Bagansiapiapi di luar negeri penasaran ingin melihat Ritual Bakar Tongkang. Sehingga, mereka beramai-ramai datang ke Bagansiapiapi," ungkapnya. 

Tradisi Bakar Tongkang di Bagansiapiapi adalah tradisi masyarakat Tionghoa. Namun, seluruh masyarakat kini ikut merayakan sebagai tradisi budaya di Riau yang banyak menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Kebudayaan daerah lain seperti kuda lumping, reog, semua berbaur meramaikan tradisi Bakar Tongkang.

Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat mengatakan, kini event Bakar Tongkang tidak lagi menjadi milik masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi saja. 

Namun saat ini, Bakar Tongkang merupakan simbol dan pesta budaya, bahkan sudah menjadi agenda wisata nasional dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. 

"Dengan adanya prosesi event Bakar Tongkang ini diharapkan dapat menghidupkan sendi-sendi perekonomian rakyat, menggerakkan sektor pariwisata dan pendapatan asli daerah. Kemudian, mengangkat wisata budaya potensial Provinsi Riau dalam mensukseskan program Pemerintah di sektor Pariwisata Nasional," ujar Roni.