Disketapang Pekanbaru Taja Ekpos Laporan Analisis Konsumsi Pangan

Kepala Disketapang Alek Kurniawan, memimpin jalannya rapat koordinasi dan ekpos analisis konsumsi pangan Pekanbaru Tahun 2022/ Foto: Istimewa

Riaubisa.com, Pekanbaru - Konsumsi pangan penduduk merupakan dasar ketahanan pangan yang harus selalu dimonitoring daerah. Kegiatan monitoring dan evaluasi dalam bentuk analisis perkembangan situasi konsumsi pangan dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang tingkat dan mutu konsumsi pangan penduduk. 

Informasi tingkat dan mutu konsumsi penduduk Kota Pekanbaru tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan kebijakan perbaikan pola konsumsi dan perencanaan penyediaan kebutuhan pangan penduduk dibawah koordinasi Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Ketahanan Pangan. 

Untuk suksesi kegiatan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Pekanbaru menaja Rapat Koordinasi sekaligus Ekspose Analisis Konsumsi Pangan Pekanbaru tahun 2022 di ruang rapat Disketapang Pekanbaru Lantai 1 Gedung B5 Komplek Perkantoran Pemko Pekanbaru, Tenayan Raya, Rabu (06/07/2022).

Rapat ini menganalisis angka-angka dalam laporan Pencapaian Target Konsumsi Pangan dan Gizi Kota Pekanbaru Tahun 2022. Ekpos dilakukan dengan menyajikan gambaran menyeluruh tentang konsumsi pangan penduduk berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2021. 

Susenas merupakan survei yang dirancang untuk mengumpulkan data sosial kependudukan yang relatif sangat luas. Data yang dikumpulkan antara lain menyangkut bidang bidang pendidikan, kesehatan/gizi, perumahan, sosial ekonomi lainnya, kegiatan sosial budaya, konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumah tangga, perjalanan, dan pendapat masyarakat mengenai kesejahteraan rumah tangganya.

Rapat koordinasi ini dipimpin langsung oleh Kepala Disketapang Pekanbaru, Alek Kurniawan, diikuti oleh seluruh stakeholder terkait diantaranya perwakilan dari Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, Badan Pusat Statistik kota Pekanbaru, Perangkat Daerah di Lingkungan Pemko Pekanbaru oleh Dinas Pertanian dan Perikanan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan PT. Sarana Pangan Madani (PT. SPM).

Alek dalam sambutannya menyebutkan, tantangan manajemen pangan di Kota Pekanbaru dihadapkan kepada beberapa fenomena dari berbagai sudut pandang diantaranya dari sudut pandang ketersedian, peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan lahan untuk pemukiman. Namun disisi lain lahan potensial untuk budidaya tanaman pangan semakin sempit. 

"Fenomena klasik bahwa Pekanbaru saat ini bukanlah sentra produksi pangan layaknya Ibukota provinsi lainnya," kata Alex.

Dia juga memaparkan, dari sudut pandang keterjangkauan pangan, persoalan pangan dihadapkan kepada fenomena Penduduk berpendapatan rendah yang sulit menyediakan pangan yang beragam dan bergizi dan ketersediaan pangan yang cukup belum tentu bisa dijangkau oleh setiap orang. 

Disisi hilir (sudut pandang pemanfaatan pangan) dihadapkan kepada konsumsi pangan erat kaitannya dengan status gizi, jika konsumsi pangan kurang bergizi dan beragam dalam waktu yang kurun lama bisa berdampak gizi buruk.

Secara memadai, Disketapang menyampaikan ekpos Laporan Penyusunan dan Penetapan Target Konsumsi Pangan dengan urutan analisisnya yakni, pertama, Situasi konsumsi pangan penduduk Kota Pekanbaru tahun 2021, kedua, Pola konsumsi pangan penduduk Kota Pekanbaru Tahun 2021, ketiga, Perkembangan konsumsi pangan penduduk Kota Pekanbaru Tahun 2017-2021

Keempat, evaluasi pencapaian konsumsi pangan Kota Pekanbaru Tahun 2021 dan terkahir penyusunan rencana perbaikan konsumsi pangan penduduk Tahun 2022-2026.

"Kualitas konsumsi pangan masyarakat dapat dilihat dari tingkat keberagaman dan keseimbangan konsumsi pangan yang didapat diindikasikan melalui skor Pola Pangan Harapan (PPH). Semakin tinggi angka skor PPH semakin baik kualitas konsumsi pangannya," jelas Alex.

Adapun konsumsi energi, protein dan skor, dia menjelaskan bahwa PPH Kota Pekanbaru Tahun 2021 menurun dibandingkan dengan Tahun 2020. Konsumsi energi dari 2.102,4 kkal/kap/hari menjadi 1.989,1 kkal/kap/hari, konsumsi protein dari 63,5 gram/kap/hari menjadi 58,4 gram/kap/hari dan skor PPH dari 84,7 menjadi 81,8 Skor Pola Pangan Harapan (PPH) kota Pekanbaru diperoleh sebesar 81,8. 

Skor tersebut belum mencapai skor ideal (<100). Dimana Konsumsi pangan memenuhi standar ideal apabila konsumsi penduduk Indonesia untuk konsumsi energi sebesar 2.100 kkal/kap/hari dan konsumsi protein sebesar 57 gram/kap/hari (WNPG, 2018). 

Secara minimal, jumlah konsumsi energi dan protein yang diperlukan agar manusia dapat hidup sehat, aktif dan produktif adalah 90% AKE dan 90% AKP. Artinya Konsumsi energi per kapita per hari penduduk Kota Pekanbaru Tahun 2021 berada pada kategori sedang dan sudah memenuhi jumlah konsumsi energi minimal untuk hidup sehat, aktif dan produktif (konsumsi energi >90% AKE). 

Sedangkan konsumsi proteinnya sudah melebihi angka kecukupan protein yang dianjurkan yaitu 57 gram/kap/hari sehingga % AKP dari Angka Kecukupan Protein adalah sebesar 102,5% dan tergolong kategori baik.

Dalam ekspos tersebut juga terungkap bahwa konsumsi pangan penduduk Kota Pekanbaru Tahun 2021 yang sudah memenuhi angka kecukupan energi dan angka kecukupan protein hanya pada golongan pengeluaran Rp1.500.000 ke atas. 

Kecukupan konsumsi energi masing-masing kelompok pangan pada masing-masing golongan pengeluaran menunjukkan bahwa kelompok pangan yang sudah berlebih adalah padi-padian, pangan hewani serta minyak dan lemak sementara kelompok pangan umbi-umbian, buah/biji berminyak, kacang-kacangan, gula serta sayur dan buah masih di bawah konsumsi energi ideal.

Menurut dia lagi, pangan dominan masih dari beras sebagai sumber energi, sementara pangan lokal seperti umbi-umbian dan sagu masih sangat kecil kontribusinya sebagai sumber energi. 

Diantara sumber protein hewani, daging unggas memiliki kontribusi yang lebih besar sebagai sumber energi. Konsumsi pangan masyarakat dari sumber protein nabati masih sangat rendah dibandingkan dengan protein hewani. 

Konsumsi pangan masyarakat dari sumber vitamin dan mineral yaitu sayur dan buah sudah cukup baik tetapi masih butuh peningkatan agar mencapai angka ideal.

Menanggapi penurunan konsumsi energi, protein dan skor PPH Kota Pekanbaru tersebut, BPS Pekanbaru memandang hal ini adalah wajar, mengingat masih berlangsungnya pembatasan akibat Covid-19 pada 2021 yang lalu juga terjadinya peningkatan angka kemiskinan dibandingkan dari tahun 2020. 

Selain itu pihak BPS juga menyebutkan terjadi pergeseran gaya hidup penduduk kota Pekanbaru yang lebih suka menyantap makanan jadi.

"Berdasarkan hasil analisis konsumsi pangan sumber data Susenas Pekanbaru Tahun 2021, kelompok pangan yang harus mendapat perhatian serius," jelasnya.

Untuk ditingkatkan jumlah konsumsinya adalah kelompok pangan umbi-umbian, kacang-kacangan, gula serta sayur dan buah. Sementara kelompok pangan yang harus diturunkan jumlah konsumsinya menuju ideal adalah kelompok pangan padi-padian, pangan hewani serta minyak dan lemak.

Dengan kondisi, fenomena dan fakta yang terungkap dalam analisis tersebut, Kadis Akur dan tim memberikan rekomendasi melalui peran masing-masing mulai dari Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha dan Industri (DUDI) dan peran masyarakat.

Dari peran pemerintah sebut eks Kabag Humas Pemko Pekanbaru tersebut, dapat dilaksanakan melalui optimalisasi Kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) sebagai program yang dapat meningkatkan ketahanan pangan sebagai sumber pangan keluarga, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai konsumsi B2SA dengan memanfaatkan pangan lokal, optimalisasi pelatihan mengolah makanan non-beras seperti jagung, kentang dan lainnya.

Selanjutnya sosialisasi untuk menggerakkan masyarakat dalam memakan ikan,  mendorong peningkatan ekonomi agar kemampuan masyarakat untuk membeli sayur dan buah dapat menjadi lebih tinggi, Memanfaatkan event-event pemerintahan yang ada untuk mempromosikan pangan lokal dan penguatan regulasi tentang penganekaragaman konsumsi berbasis pangan lokal.

Dari akademisi melalui optimalisasi wawasan pengetahuan mengenai gizi dan pangan lokal yang beragam, bergizi seimbang dan aman disemua tingkatan pendidikan dan meningkatkan kegiatan pengabdian masyarakat dalam pengembangan teknologi pangan lokal dari hulu hingga hilir lewat penelitian dan sejenisnya.

Dari DUDI melalui Optimalisasi Penggunaan pangan lokal untuk dikonsumsi baik makanan kudapan (snack) maupun Lunch Box dengan menerapkan prinsip beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA) dalam setiap rapat/seminar dan pertemuan serta Peningkatan pengolahan makanan non-beras dengan cara penambahan outlet makanan jadi berbahan dasar seperti ikan, jagung, kentang dan lainnya. 

Yang tak kalah penting menurut Ketua ISSI Pekanbaru ini adalah kontribusi peran masyarakat luas melalui optimalisasi makan makanan lokal dan beraneka ragam, artinya dalam sekali makan diupayakan bersumber dari potensi lokal dan mencakup makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah dan air minum dengan porsi sesuai kebutuhan (usia, jenis kelamin dan aktivitas fisik). 

Poinnya konsumsi makanan manis, asin dan berlemak harus dibatasi. Selanjutnya masyarakat juga dihimbau untuk Konsumsi makanan yang aman dengan cara tidak membeli makanan di tempat yang kotor; tidak menggunakan bahan tambahan berbahaya untuk makanan, seperti pengawet kimia, pewarna pakaian, pemanis yang berlebihan; serta tidak mengkonsumsi makanan yang berwarna mencolok, terlalu kenyal, terlalu manis, terlalu pedas, terlalu gurih, dan awet melebihi batas kewajaran. 

Acara ini diikuti secara antusias oleh seluruh stakeholder yang hadir dan berkomitmen mendukung upaya yang direkomendasikan Disketapang tersebut. 

Sebut saja misalnya dari Dinas Koperasi, Disperindag dan Dinas Pariwisata akan mewujudkan melalui optimalisasi pelatihan pengolahan pangan lokal kepada UMKM yang menarik dan memadai yang memiliki nilai lebih untuk dipasarkan. 

Selanjutnya Dinas Kesehatan sebutnya akan berpartisipasi menyuarakan optimalisasi pangan lokal lewat GERMAS atau Gerakan Kesehatan Masyarakat. Sementara Dinas Perhubungan menyarankan agar sosialisasi ini juga dimasifkan saat pagelaran Car Free Day (CFD) setiap minggunya.

Di akhir sesi kegiatan, Kadis Ketapang yang juga Ketua IKA SKMA Pengda Riau ini sangat mengapresiasi dan berupaya akan menindaklanjuti yang menjadi bagian tusi Disketapang dan meminta perkenaan akselerasi program terkait dari Perangkat Daerah/ stake holder lainnya sesuai tusinya masing-masing.

“Kami ucapkan terima kasih dan mohon maaf apabila dalam penerimaan dan penyampaian terdapat banyak kekurangan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk bagi kita semua, sehingga kita dapat memanfaatkan peran strategis sesuai tusi kita masing-masing," pungkasnya. (*)

Suasana rapat koordinasi Expose Analisis Konsumsi Pangan Pekanbaru Tahun 2022, di ruangan Kantor Disketapang, Rabu (6/7/2022)

Rakor ekpos Laporan Analisis Konsumsi Pangan yang dihadiri seluruh stakeholder di Lingkungan Pemko Pekanbaru, Rabu (6/7/2022)

Tim menyajikan data-data strategis situasi Konsumsi pangan penduduk Kota Pekanbaru, Pola Konsumsi Pangan, Perkembangan Konsumsi Pangan dari berbagai jenis Pangan serta data evaluasi pencapaian konsumsi pangan dan Rencana Perbaikan kurun waktu 2022-2026

Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemko yang hadir dalam ekpos Laporan Analisis Konsumsi Pangan Kota Pekanbaru, Rabu (6/7/2022)

Perwakilan dari Dinas Koperasi UMKM Pekanbaru, BPS Pekanbaru dan Dinas Kesehatan yang hadir dalam Rakor Laporan Analisis Konsumsi Pangan, Rabu (6/7/2022)

Kegiatan Ekpos Rakor juga diliput oleh Mahasiswa yang sedang melakukan magang di Disketapang Pekanbaru sebagai bahan riset dan laporan mereka terkait program strategis di bidang Ketahanan Pangan yang dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru

Tim Disketapang Pekanbaru yang hadir dan memberikan penjelasan terkait angka angka capaian konsumsi pangan di kota Pekanbaru yang memerlukan pemahaman

Kepala Dinas Ketapang Pekanbaru, Alex Kurniawan (tengah) memberikan penjelasan dalam ekpos terkait Laporan Analisis Konsumsi Pangan di Kota Pekanbaru, Rabu (6/7/2022)

Tags :Disketapang